DewAsmara: Antara Aku, Lie Chun dan Hera – 1

cerita sex paling nikmat | cerita mesum | cerita dewasa 18 + | cerita sex terpanas…..
Kisah Sex yang membahas cerita dewasa terbaru dengan nafsu birahi tinggi.

payudara ukuran montok , dada ukuran montok , susu ukuran montok, toket ukuran montok, toge ukuran montok (9)_WMNamaku sebut saja Handy (nama samaran) atau lebih sering disebut sebagai Andy. Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara, orangtuaku berasal dari daerah timur (Flores) sehingga maklum kalau penampilanku berkesan hitam namun macho seksi dan gagah perkasa (setidaknya itu kalimat pujian yang sering di ucapkan oleh para wanita yang pernah tidur denganku). Tinggi tubuhku sekitar 185-an dengan berat sekitar 80 Kg lengkap dengan gumpalan otot yang keras di sekujur lengan, dada dan bagian tubuhku yang lainnya, termasuk alat kelaminku yang berdiameter besar dan sangat keras, kokoh dan berurat. Potongan rambutku tipis klimis sehingga berkesan seperti Anggota ABRI saja, namun demikian aku memotong rambutku tipis supaya tidak terlalu kentara potongan rambut asliku yang agak keriting.

Aku adalah alumni salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di kota kembang, dan aktif dalam perkumpulan pencinta alam tatkala tengah menuntut ilmu pada masa perkuliahan dulu. Di ruang senat fakultasku, aku sering menghabiskan waktuku dengan kegiatan keorganisasian mahasiswa sekaligus untuk menjalin keakraban dengan para mahasiswi yang memang cantik-cantik itu. Ya bisa dikata sambil menyelam minum greenspot deh ha.. ha.. ha..

Di antara para mahasiswi itu aku mengenal beberapa yang tergolong cantik dan sexy salah satunya bernama Hera dari FISIP dan satunya lagi bernama Lie Chun anak Fakultas Ekonomi jurusan akuntansi. Keduanya tergolong makhluk langka di kampusku karena selain keturunan tionghoa mereka juga sangat cantik, bertubuh sexy putih dan mulus, terlebih bentuk tubuh mereka yang sangat kencang dan proporsional sehingga tidak salah jika banyak jejaka yang berlomba untuk menaklukan hati mereka. Di banding dengan fisikku, tubuh mereka berdua tergolong mungil meskipun mereka sendiri memiliki tinggi tubuh sekitar 170-an. Hera memiliki face dan fisik mirip seperti Kaori Shimamura sedangkan Lie Chun mirip seperti Vivian Chow namun lebih lembut dan manis.

Pada suatu pagi cerah di bulan Juli sehari sesudah ujian semesteran, kelompok pencinta alam di kampus kami mengadakan acara pendakian dan kemping bersama untuk semua mahasiswa dan mahasiswi baik yang ikut dalam kegiatan pencinta alam maupun bukan. Hera sebagai salah satu aktivis organisasi pencinta alam di kampusku getol mengajak teman-teman kostnya yang kebetulan satu kampus agar ikut dalam kegiatan tersebut, Lie Chun sebagai salah satu mahasiswi perantauan asal Jakarta (seperti Hera) nampaknya tertarik mengikuti acara tersebut. Hal ini agak mengherankan karena berbeda dengan Hera, Lie Chun kurang akrab dengan berbagai kegiatan kemahasiswaan, banyak yang mengatakan bahwa ia tergolong anak Mami yang sehabis kuliah langsung pulang.

Namun demikian aku selaku panitia koordinator acara tidak mempersoalkan masalah tersebut, bahkan kuanggap hal itu membantu mensukseskan acara tersebut karena otomatis peserta terutama kaum pria menjadi lebih banyak yang mendaftar untuk ikut. Dan tepat seperti dugaanku, pagi itu peserta yang datang membludak bahkan nyaris melampaui dari jumlah yang telah kami perkirakan (karena ada beberapa yang terlambat mendaftar sehingga kami salah menghitung kapasitas angkutan yang telah di siapkan). Namun demikian berkat kesigapan panitia bagian transportasi, segala urusan dapat di selesaikan dengan baik.

Akhirnya setelah menunggu kurang lebih selama satu jam rombongan pun dapat segera berangkat menggunakan beberapa truk carteran milik salah satu kesatuan militer yang berada di daerah Bandung. Selama perjalanan tak henti-hentinya candaan dan senda gurau riuh rendah memenuhi truk-truk tersebut apalagi dalam perjalanan tersebut rombongan antara mahasiswi dan mahasiswa bercampur baur dengan alasan agar ada yang dapat menjaga keselamatan para mahasiswi tersebut dan juga agar perjalanan tidak terasa jenuh.

Sesampainya di kaki gunung, rombongan mendapat petunjuk singkat dari diriku selaku panitia dan sesudahnya kami pun segera berangkat menuju salah satu bumi perkemahan yang terletak tak jauh dari lokasi tempat kendaraan kami berhenti. Sesudah selesai mendirikan tenda, kami pun beristirahat dan berbenah serta bersenda gurau guna menghilangkan kepenatan selama dalam perjalanan. Kesempatan ituku pergunakan guna berbincang-bincang dengan para panitia lainnya termasuk Hera guna mengkoordinir langkah selanjutnya yang akan ditempuh. Setelah segala urusan kepanitiaan tersebut usai, kami para panitia pun membubarkan diri dan turut beristirahat. Aku sengaja beristirahat agak jauh dari yang lainnya karena selain tidak ingin terganggu, juga karena agak lelah akibat perjalanan dan persiapan acara tersebut.

Sedang asyik-asyiknya aku duduk santai di depan tenda besar milikku, tiba-tiba Hera datang menghampiri diriku. Dan menyodorkan makanan kecil ke hadapanku.

“And, ini gue ada cemilan kamu mau nggak?”

Aku yang sudah agak sedikit lapar langsung saja memasukkan tanganku dan meraup agak banyak potatoes chips tersebut. Hera pun lantas ikut duduk di sisiku di atas tikar yang kugelar di depan tenda. Sambil asyik makan, sesekali Hera menoleh mengamati diriku, meskipun aku agak cuek terhadap dirinya, namun lantaran terus di amati demikian aku pun merasa risih, lantas aku pun bertanya.

“Ada apa sich Ra? Koq kamu ngeliatinnya seolah-olah aku ini makhluk planet gitu? Dari tadi kamu terus ngamatin aku, emang gue manimal yach yang lagi ganti-ganti wujud?” ujarku sambil tersenyum.
Hera pun turut tersenyum, lantas berkata, “Ah.. Enggak koq And. Nggak ada apa-apa koq, gue cuman takjub aja kalau kamu bisa cool gitu, biasanya cowok tuh kalau ada banyak cewek ngumpul suka gimana gitu, rada-rada over acting lah, ini kamu malah asyik sendiri di kejauhan”.
“Ohh.. Itu sich emang aku yang kurang suka begitu koq, lagian aku juga rada capek” ujarku.

Lalu kami terdiam agak lama. Lantas tiba-tiba Hera memecah kesunyian sambil berkata, “And, kamu.. Sebenarnya sudah punya cewek belum sich? Koq anak-anak banyak yang naksir kamu, tapi kamunya cuek bebek githu?” ujarnya sambil menatap dalam wajahku.
Aku menoleh padanya lantas berkata, “Ahh.. Enggak ah.. Emang aku lagi malas koq mikirin urusan gituan, lagian mana ada waktu lagi buat urusan kampus kalau sudah punya cewek, berapa banyak sich cewek yang bisa ngerti kesibukanku Ra? Paling-paling pertamanya aja bilang ngerti, nanti kalau dach lamaan dikit juga nuntut ini-itu dan mulai larang-larang.” sahutku asal-asalan.

Mendadak obrolan kami terpecahkan oleh kehadiran Lie Chun dari belakang tendaku yang terletak agak naik sedikit ke arah bukit, rupanya anak itu habis jalan-jalan ke atas sebentar.

“Nah yach berduaan aja, rupanya berduaan emang sudah janjian nich.” ujarnya sambil tersenyum-senyum lucu.
Aku lantas tersenyum dan berkata, “Lie Chun, ayo duduk yok, nggak usah malu-malu koq, aku kan sama Hera dach temenan lama, lagian kita emang lagi ngobrol aja koq”.

Lie Chun pun ikut duduk sementara Hera diam saja.

Lantas Hera berkata, “And, aku balik dulu yach, mau tidur dulu ngantuk nich”.
Aku menjawab, “Lho koq buru-buru Ra, tidur aja di dalam tendaku, lagian nanti juga kita mesti kumpul lagi khan buat bikin permainan dan makan malam? Toh kamu udah mandi sore khan?”.

Hera diam saja lantas sesaat kemudian bangkit dan masuk ke dalam tendaku. Akhirnya setelah agak lama ngobrol sama Lie Chun, akupun bangkit berdiri dan membangunkan Hera karena hari sudah mulai gelap dan acara sebentar lagi akan di mulai.

Usai acara dan makan malam, aku lantas kembali ke arah tendaku dan hendak santai tidur-tiduran pada acara santai yang tengah berlangsung usai makan malam. Ketika tengah berbaring mendadak tendaku di buka dan wajah Hera menyembul dari balik pintu masuk tendaku.

“Ndy sorry, aku numpang nongkrong yach di tempat kamu, soalnya tenda panitianya agak rame sama anak-anak yang lain”, sahut Hera.

Aku agak bingung karena biasanya Hera sangat ceria dan antusias dengan acara kumpul-kumpul berbeda dengan diriku yang walaupun aktif dalam berbagai kegiatan organisasi namun untuk acara kumpul-kumpul dan bersantainya aku lebih suka memilih duduk sendiri sambil menikmati ketenangan ataupun keindahan alam.

Aku bertanya, “Tumben Ra, koq kamu nggak ikut ngumpul ikut acara biasanya kamu hobby ngumpul?”.
“Nggak Ndy, aku lagi agak malas, nggak mood, lagian juga udah keramaian sich”, ujarnya asal-asalan.
“Hayoo.. Rame apa rame nich.. Kepengen dekat-dekat dengan Bang Andy yach?” sahutku sambil menggodanya.

Mendengar itu Hera mencibir dan berkata “Huu.. Geer tuh” namun kalimat itu di ucapkannya sambil sedikit menahan senyum. Terus terang sebenarnya aku agak curiga apakah Hera memang memendam hati kepadaku atau tidak, karena untuk tiap kegiatan organisasi yang aku ikuti dia pasti ada namun untuk kegiatan yang tidak ada keberadaan diriku walaupun dirinya diminta menjadi pengurus pun tetap ogah, lagipula dalam tiap acara ia selalu memilih berada dekat dengan diriku. Namun aku tidak mau di cap sebagai cowok geeran meskipunku akui bahwa akupun sangat tertarik dengan dirinya, namun aku tidak mau jika ternyata salah sangka sebab berbekal pengalaman terdahulu aku pernah salah sangka dengan seorang wanita yang dekat kepadaku yang ternyata hanya menganggapku sebagai kakaknya belaka.

Agak lama kami berdua sama-sama terdiam sambil memandang api unggun, lantas mendadak Hera bertanya “Ndy, menurut kamu, kalau ada cewek yang naksir sama kamu, kamunya gimana?”.

Terus terang aku sama sekali tidak menyangka bakal mendapat pertanyaan semacam itu karena walaupun sebelumnya Hera pernah bertanya hal-hal yang menyerempet ke arah sana terutama dengan pertanyaannya sore tadi, namun untuk hal yang ini agak mengejutkan diriku karena aku sama sekali tidak siap dengan jawabannya.

Namun secara diplomatis aku menjawab, “Ya kalau dianya baik, dan orangnya kebetulan termasuk tipeku, kenapa tidak di coba jalanin bersama-sama?”.

Hal itu aku ucapkan sambil menatap lembut ke arahnya. Agaknya Hera sedikit takjub dengan jawabanku dan dia menatap heran ke arahku, lantas ia kembali bertanya, “And, memangnya tipe kamu tuh seperti apa sih?”.

Aku terdiam sejenak.. Lantas menarik nafas agak panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan..

“Ngghh.. Gimana ya Ra, tipeku tuh ya yang penting pengertian lah sama diriku termasuk kesibukanku ini, mungkin kalau di tanya gimana nyari cewek yang seperti itu ya aku palingan bisanya jawab ya sebisa mungkin dapatnya dari anak yang juga aktif di dalam organisasi biar setidaknya dia bisa lebih maklum barangkali anak yang aktif dalam organisasi semacam kamu yang lebih mendekati kriteriaku” ujarku sedikit rada lega karena akupun harus bisa berpura-pura tidak terpengaruh dengan jawabannya.

Anyway sesudah mendapat jawaban seperti Hera tampaknya agak sedikit lega dan matanya terlihat bersinar-sinar..

Lama kami saling terdiam lantas aku berkata, “Memangnya kenapa kamu nanya seperti itu Ra? Emang ada yang mau?” Terus terang ini jenis stupid question karena yang ada cewek kalau di giniin bisa malah batal jadiannya. Di tanya begitu Hera cuman menjawab “Ya enggak sih, cuman mau nanya aja”.
“Kalau aku sih Ra terus terang carinya yang seperti kamu, ya baik, supel, aktif dalam organisasi dan pengertian” ujarku buru-buru untuk menutup kekeliruanku.

Hera tampaknya agak sedikit kaget dan menoleh ke arahku dan menatap agak tajam ke mataku tampaknya seperti ingin menyelidiki kebenaran jawabanku. Lantas aku sadar bahwa dalam acara begini sebagai cowok aku mesti ambil inisiatif duluan kupikir daripada keburu lepas mendingan buruan di jadiin apalagi momentnya udah tepat cuman berduaan di depan api unggun di perkemahan yang jauh dari keramaian dan udaranya agak dingin lagi.

Akupun berkata “Ngghh.. Sebenarnya aku udah lama suka sama kamu Ra, tapi terus terang aku nggak tau isi hati kamu, terus terang aku mencintai kamu”

Wah kacau deh gara-gara keburu nafsu jadi salah strategi deh semua di umbar gitu aja. Eh tapinya Hera cuman diam aja dan menatap ke wajahku agak lama, lantas buru-buru aku menambahkan.

“Terus terang aku kepingin kita lebih dari sekedar teman, tapi kalau kamu keberatan, aku bersedia tetap menjadi teman kamu dan melupakan apa yang barusan aku ucapkan”
Belum selesai aku berbicara Hera menempelkan telunjuknya yang lentik itu ke bibirku dan berkata, “Sstt, nggak usah kamu ucapkan Ndy.. Hera juga sayang sama kamu..”

Lantas tanpaku duga sama sekali ia mencium lembut pipiku terlebih dahulu.. Diriku serasa melayang karena baru pertama kali ada gadis menciumku selembut itu.

Ke bagian 2

This entry was posted in Cerita Sex Softcore and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.